Pages

Kamis, 14 Februari 2019

A Little Disappointed


“Seribu kebaikan akan kalah dengan satu keburukan.” Kini aku rasa kata-kata itu ada benarnya juga. Memang betul, ketika seseorang berbuat seribu kebaikan, itu semua tidak akan ada artinya ketika ia berbuat satu keburukan. Memang rasanya tidak adil, namun satu keburukan tersebut akan terus diingat, tak peduli berapa banyak kebaikan yang telah diperbuat.

Hari ini aku belajar bahwa orang yang selalu kita anggap baik tak selamanya baik. Bisa saja penilaian kita salah, karena sebenarnya orang itulah yang justru akan menjatuhkan kita. Kita tidak akan pernah tahu rencana dari seseorang. Kita hanya dapat menilai seseorang dari luarnya saja.

Aku mengaku salah. Aku tidak pernah berpikiran negatif terhadap seseorang. Aku selalu menilai semua orang sama, menilai kebaikannya saja. Namun hal tersebut ternyata dapat menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Orang yang selama ini aku anggap baik, ternyata tanpa kutahu dibelakangku memiliki kepribadian yang lain, yang bisa menjatuhkanku kapan saja.

Kecewa? Tentu saja. Aku merasa selalu berusaha menjaga kata-kata. Namun terkadang orang lain berkata tidak baik, yang tanpa mereka tahu dapat melukai perasaan orang lain. Bukannya terlalu perasa, namun jika kau ada di posisi itu, kau akan tahu bagaimana rasanya.

Mulai hari ini, aku akan belajar untuk tidak terlalu menilai baik seseorang. Dan biarlah.. Biar saja orang lain berlaku yang tidak baik kepada kita, namun kita tidak boleh melakukan hal yang sama. Sabar dan ikhlas, itu kuncinya. Dan semoga selalu dapat dilapangkan hatinya untuk mudah memaafkan.

Minggu, 27 Agustus 2017

Berubah

Akhir-akhir ini, aku merasa ada terlalu banyak perubahan. Entah apa atau siapa yang berubah. Apa aku yang berubah? Kau yang berubah? Kalian yang berubah? Mereka yang berubah? Waktu yang berubah? Keadaan yang berubah? Atau apa..?

Terkadang aku merasa benar-benar sendiri ketika orang terdekatku satu persatu menjauh. Bukan hanya masalah jarak, namun juga jauh secara emosi. Berbagai tanya selalu menyeruak dalam pikiranku. Apa semuanya memang benar berubah, atau hanya perasaanku saja?

Setiap hari aku hanya bisa berpikir, menerka-nerka apa yang jadi penyebab. Aku tahu, seiring berjalannya waktu, semua pasti punya lingkungan baru. Tapi apa itu harus menjadi alasan untuk berubah? Apa itu harus menjadi salah satu penyebab untuk menjauh?

Jika ingin tahu, aku butuh seseorang yang selalu ada ketika masalah membelengguku. Aku butuh teman untuk sekadar berbagi cerita, agar aku merasa sedikit lega.

Aku rindu. Aku rindu beberapa waktu lalu ketika kita begitu dekat. Bagiku, persahabatan adalah tentang selalu ada dan saling mengingatkan. Bukannya pergi dan saling melupakan.

Kini rasanya hanya keluargalah yang aku punya. Aku baru merasakan betapa aku ingin cepat pulang ketika semua urusanku selesai. Ternyata, dalam keadaan apapun hanya keluargalah yang tak mungkin berubah. 

Senin, 31 Juli 2017

Selesai

Entah harus kumulai dari mana tulisan ini. Baru saja beberapa kata yang kutulis, rasanya air mata sudah berlinang di pelupuk mata.
Beberapa waktu ini aku merasa ada bagian yang hilang dari diriku. Saat tahu tentang semuanya, rasanya ada sesuatu yang terbawa pergi dan tak akan pernah kembali.
Semua masih tentang kau, orang yang sudah beberapa tahun terakhir tertulis dalam ingatan. Orang yang sudah berkali-kali kucoba untuk lupakan, namun tak pernah bisa.
Maaf jika aku masih saja menulis tentangmu, padahal sudah sering kubilang bahwa semuanya telah selesai. Tapi sungguh, sekarang aku baru sadar bahwa semuanya telah benar-benar selesai.
Seseorang pernah berkata kepadaku, semuanya akan selesai ketika kau memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Namun bagiku, semuanya telah selesai ketika kau memilih untuk menjalin kasih dengan orang lain. Ingatkah kau? Sebelumnya sudah berkali-kali kau bilang akan tetap sendiri sampai menemukan orang yang tepat untuk diajak ke tahap yang lebih serius.
Tahukah? Kata-katamu itu membuatku merangkai angan selama bertahun-tahun. Dengan tahu bahwa kau tak terikat dengan siapa pun, rasanya itu sudah cukup membuatku tenang. Aku melihat ada sedikit harapan, yang tanpa kutahu hanya berakhir dengan kekecewaan.
Setiap hari, aku mencoba untuk memperbaiki diri, memperbaiki setiap sifat buruk yang dulu sangat kau benci. Dan aku berhasil. Aku sekarang sudah tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa, bukan lagi gadis yang kekanakan sepeti dulu saat aku bersamamu.
Setiap hari, aku terus menunggu sampai waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Aku ingin melangkah ke arah yang lebih serius denganmu. Namun aku tidak ingin terburu-buru, mengingat usia kita yang masih terbilang muda. Dan aku yakin, saat ini karir adalah prioritas utamamu.
Aku memilih untuk menjaga jarak. Namun aku selalu berusaha untuk tidak hilang kontak denganmu. Meskipun hanya saling bertegur sapa sebulan sekali, atau bahkan beberapa bulan sekali, yang penting aku tahu bahwa kau baik-baik saja.
Ketika kita mulai dekat lagi, kau harus tahu betapa senangnya aku saat itu. Meskipun aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, mungkin aku hanya kau anggap angin lalu, namun biarlah.. Setidaknya aku bisa merasa bahagia, meskipun hanya sekejap, namun terasa nyata.
Beberapa bulan yang lalu, intensitas komunikasi kita terbilang cukup baik. Kau pun sempat menemaniku ke dalam satu acara, lalu seperti dulu, kau menjemput dan mengantarku pulang. Senang sekali rasanya. Aku senang bisa berbagi cerita, canda, dan tawa denganmu.
Kau tahu? Aku punya satu buku tentangmu. Buku yang sudah aku tulis sejak 4 tahun yang lalu. Semuanya hanya berisi tentangmu, juga tentang kita. Seumur hidupku, baru kali ini aku menjadikan seseorang sebagai tokoh utama dalam tulisanku sampai selama itu. Bisakah kau bayangkan, sebesar apa perasaanku padamu?
Hingga sampailah pada malam itu, ketika aku harus melihat kenyataan bahwa kau telah memilih yang lain. Aku melihat bahwa kau mengingkari ucapanmu. Lalu apa artinya semua ini? Setelah aku merasa kita dekat lagi, namun ternyata kau telah memiliki pilihan lain. Bahkan mungkin kalian sudah menjalani semuanya dalam waktu yang lama.
Aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri. Mengapa sampai tak tahu sedikit pun? Aku yang tidak peka, atau memang kau yang terlalu rapat menyimpan semuanya? Entahlah, setahuku kau memang pandai menyembunyikan sesuatu.
Malam itu aku tak mampu berkata banyak. hanya tangis yang mampu mengungkapkan semuanya. Merasa paling bodoh karena sudah menunggu dalam waktu yang lama. Sungguh, rasanya lebih sakit jika dibandingkan dulu saat kita memutuskan untuk tak lagi beriringan.
Sejak malam itu, aku tak tahu langkah apa yang harus aku lakukan untuk menata kembali perasaanku. Setiap hari aku hanya berusaha untuk melupakanmu. Namun aku bisa apa? Semua hal yang aku lakukan selalu saja mengingatkanku padamu.
Apakah selama ini kau benar-benar tak tahu tentang perasaanku? Atau hanya pura-pura tak tahu? Setelah banyaknya tulisan yang aku tulis untukmu, aku yakin kau pasti membaca semuanya. Seperti beberapa tahun yang lalu, bukankah kau sering kali membaca tulisanku? Setelah kau baca, lalu kau berkomentar. Saat itu aku hanya tersipu malu, karena tulisan itu adalah tentangmu.
Lalu sekarang aku harus bagaimana? Kau tahu kan, tidaklah mudah menjadi aku. Seakan dipaksa untuk pergi, padahal aku benar-benar tak ingin pergi.
Sementara ini, aku pasrah dengan keadaan. Tak mungkin merengek dan memaksamu untuk tetap tinggal. Aku yakin dapat mengatasinya dengan cara yang lebih dewasa. Kali ini, aku menganggap semuanya telah benar-benar selesai. Bagaimanapun juga, aku tetap harus melanjutkan hidup, meski tanpamu.
Berbahagialah. Semoga ia dapat memperlakukanmu dengan baik.

Kamis, 29 Juni 2017

Tentang Delapan Tahun yang Lalu

Teh, apa kabar? Hari ini rasanya aku terlalu banyak mengingat. Hari lebaran selalu mampu membangkitkan semua kenangan. Meski sudah delapan tahun berlalu, tapi semuanya masih tersimpan rapi dalam kotak ingatan.

Teh, maafkan aku. Aku belum sempat menjenguk ke peristirahatan terakhirmu. Hari ini aku sudah berniat untuk pergi ke sana, namun kondisi memaksaku untuk mengurungkan niatku tersebut. Tapi sore tadi aku sudah mengunjungi keluargamu, apa kamu tahu? Senang sekali rasanya ada di antara mereka. Pelukan tak jarang mereka bagi, seolah aku adalah salah satu anggota keluargamu. Ibumu sudah kuanggap ibuku sendiri, begitu pula dengan ayahmu.

Teh, bolehkah aku mengingat semuanya? Semua kisah pahit yang terjadi delapan tahun yang lalu, semua masih terekam jelas dalam ingatan. Semoga kamu tidak sedih ya jika tahu aku menuliskan lagi semua ini. Semua ini semata-mata karena aku rindu, sangat rindu, semoga kamu dapat mengerti.

Hari itu, 21 September 2009. Suasana lebaran masih terasa jelas. Tradisi silaturahmi dari rumah ke rumah masih dijalankan, mengingat itu adalah lebaran hari kedua. Saat itu keluargaku sedang berkunjung ke rumah nenekmu yang letaknya persis di samping rumahmu. Saat itu usiaku masih 14 tahun, menurutku, usia yang masih pantas untuk tidak menyimak apa yang orang-orang dewasa perbincangkan. Namun fokusku langsung terkumpul ketika melihat nenekmu tiba-tiba menangis. Aku mencoba untuk menyimak pembicaraannya. Ternyata, katanya pagi hari itu kamu pingsan ketika bersilaturahmi di rumah salah satu saudara. Katanya kamu muntah darah. Betapa paniknya aku saat itu.

Orang-orang pasti tahu, aku dan kamu sudah bersahabat sejak kecil. Meskipun usia kita terpaut 4 tahun. Dan saat itu, kita sedang dekat-dekatnya. Mendengar kabar tersebut, tentu saja aku langsung bergegas ke rumahmu. Aku tak kuasa menahan tangis ketika melihatmu sedang terbaring lemas, menghadap kiblat. Tak ada yang berani membangunkanmu, termasuk aku. Tanpa kusangka.. Itu adalah saat terakhirku melihatmu dalam keadaan masih hidup.

Esoknya, 22 September 2009, entah apa yang ada di pikiranku sehingga aku tidak menjengukmu. Jika tahu bahwa kamu akan pergi, mungkin aku akan menemanimu seharian. Ada di sampingmu, menemanimu di saat-saat terakhirmu. Malamnya, aku mendapat kabar dari kakakmu bahwa kamu masuk rumah sakit. Keadaanmu memburuk. Kamu harus tahu, malam itu aku tak pernah berhenti memikirkanmu. Perasaanku sudah campur aduk. Rencananya, esok hari aku akan menjengukmu ke rumah sakit. Tapi ternyata semuanya terlambat..

Keesokan harinya, 23 September 2009, ketika sedang tertidur pulas aku dibangunkan oleh suara riuh dari balik pintu kamar. Orang-orang bergantian mengetuk pintu kamarku yang saat itu terkunci, saling bersahutan memanggil namaku. Aku yang setengah sadar lantas membukakan pintu kamar. Saat itu, jam masih menunjukan pukul 3.30. Ternyata, dua sahabatku yang lain dan kakakmu yang datang. Mereka memelukku dan mengatakan bahwa kamu sudah pergi. Aku tak bisa berkata-kata saat itu. Hanya tangis yang mampu berbicara banyak.

Sesaat kemudian, kami bergegas menuju rumahmu. Katanya, jenazahmu masih di rumah sakit dan sebentar lagi akan diantar ke rumahmu. Suasana duka sangat terasa saat itu. Tangis menggema di setiap sudut rumahmu. Beberapa menit kemudian suara ambulance datang mengantarkan jenazahmu. Aku masih tak bisa percaya bahwa kamu sudah pergi. Melihatmu sudah terbujur kaku di depan mataku, rasanya seperti mimpi. Usiamu masih terlampau muda, masih 18 tahun, mengapa harus pergi secepat ini?

Ketika mengantarkanmu ke peristirahatan terakhir, rasanya tangisku semakin membuncah. Kamu pergi untuk selamanya. Aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpamu, orang yang hampir setiap hari ada menemaniku. Orang yang kesabarannya melebihi batas. Orang yang selalu jadi penasihat terbaik, selalu ada ketika dibutuhkan.

Ternyata semua firasatmu benar. Semua yang kamu tulis di sosial mediamu, semuanya menjadi kenyataan. Katamu, kamu tidak memiliki banyak waktu lagi. Dan kamu sangat takut menghadapi semuanya. Di selembar kertas itu juga kamu menuliskan tentang isyarat kepergianmu. Mungkin Allah sudah memberitahumu melalui beberapa pertanda, agar kamu lebih siap jika hari itu datang.

Kalau kamu masih ada, mungkin kamu sekarang sudah menjadi wanita berusia 26 tahun. Aku tidak bisa membayangkan betapa cantiknya kamu di usia itu. Mungkin kamu akan jatuh cinta, menikah, lalu memiliki anak. Namun semua hal tersebut tak sempat kamu wujudkan. Kamu pergi di saat usiamu masih terlalu muda. Padahal kamu tahu? Masa muda adalah masa yang paling berkesan. Namun Allah memanggilmu terlalu cepat sehingga kamu tidak dapat merasakan semuanya.

Teh, katanya orang yang baik selalu dipanggil lebih dulu. Dan sekarang aku percaya semua itu. Kamu orang yang sangat baik, orang yang sholehah. Kita semua sayang kepadamu, tapi ternyata Allah lebih sayang. Allah tidak mau membiarkanmu merasakan sakit lebih lama lagi. Terkadang, dalam satu kesedihan ada hal yang harus kita syukuri. Percayalah, Allah punya rencana lain yang lebih indah.

Teh, tidak banyak kata yang bisa aku tuliskan untuk menggambarkan betapa rindunya aku saat ini. Aku hanya bisa berdo’a agar kamu ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Maaf jika aku hanya bisa mengunjungimu sesekali saja, yang pasti do’aku tidak akan pernah putus. Baik-baik ya di sana, aku tahu Allah sudah memiliki tempat yang terbaik untukmu.

Sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya, semoga kita bisa dipertemukan kembali.

Untukmu, sahabat sekaligus kakak terbaik. Almh. Ratih Angrum Sari. 

Sabtu, 10 Juni 2017

Writing Songs About You - Taylor Swift

I can’t believe you did it again
Walked by and took my heart with you
Why did you have to look so good?
Don't you know that I'm trying to hate you
Trying to have a dream without you in it
But how can I put out this fire
When you're the one who lit it

I can't wait for the day I stop pretending
That I'm really ok when I'm not
I want to know how it feels to be
Over you for real
Until I do
I'll keep writing songs about you

I've got a stack of papers so high
And it's all about you baby
Keep thinking maybe I
Can make sense of something crazy
Something I can't get out of my head
I write your name, I write your name
Then I tear it all to shreds

I can't wait for the day I stop pretending
That I'm really ok when I'm not
I want to know how it feels to be
Over you for real
Until I do
I'll keep writing songs about you

And if you ever change your mind
And want me back again
I hope these songs will remind me
Why I shouldn't let you in

I can't wait for the day I stop pretending
That I'm really ok cause I'm not
I want to know how it feels to be
Over you for real
Until I do

I'll just wait for the day
I stop pretending
That I'm really ok when I'm not
I wanna know how it feels to be over you for real
Till I do,
I'll keep writing songs about you

Jumat, 10 Februari 2017

Berdamai dengan Masa Lalu

Hari ini adalah satu hari menuju kelulusanku. Di saat semua orang bahagia, entah mengapa aku merasakan hal yang sebaliknya.. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Sesuatu yang sebenarnya tak perlu lagi aku pikirkan: masa lalu.

Kau tahu? Aku sudah bersusah payah untuk meredam semua perasaan. Lalu kau hadir kembali, yang tanpa kau sadari mampu mengingatkanku pada setiap kenangan. Kau hadir di saat perpisahan sudah terlihat nyata di hadapan kita.

Besok adalah hari kelulusanku. Atau lebih tepatnya, hari kelulusan kita. Kau ingat? Dulu aku sangat berharap kita dapat memakai toga pada waktu yang sama. Dan dalam beberapa jam lagi semuanya akan tercapai, meskipun keadaannya sudah berbeda. Aku harus bahagia atau bagaimana? Tentang mawar biru itu, kau masih ingat?

Sesaat lagi kau akan pergi, sementara aku masih di sini, di kota yang penuh dengan kenangan ini. Seharusnya aku sudah terbiasa, namun entah mengapa.. Malam ini aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya sesakit ini.

Sungguh aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Mungkin aku masih butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu. Belajar untuk ikhlas dan melupakan segala harapan. Belajar untuk menerima sebuah perpisahan.

Maka, pergilah.. Setelah ini, kita harus menjalani kehidupan kita masing-masing. Mungkin di tempat lain kau akan temukan seseorang yang lebih baik. Terima kasih sudah menjadi seberkas cerita di masa kuliahku. Selamat untuk kelulusanmu. 

Selasa, 17 Januari 2017

Untukmu yang Tidak Kukenal

Untukmu yang tidak kukenal,
Entah apa yang harus aku tulis untuk mengungkapkan semua ini.
Kamu tahu?
Rasa ini terus bertambah setiap harinya, membentuk suatu perasaan yang entah harus kunamakan apa.
Setahuku, setiap melihatmu ada sesuatu yang berdesir dalam hatiku.
Meskipun nyatanya kita tidak saling mengenal.
Kita hanya sempat berbincang lewat percakapan yang tidak disengaja.
Perjumpaan demi perjumpaan pun membuatku sedikit bisa menilai tentang kepribadianmu.
Tanpa disadari, namamu diam-diam terselip dalam do’a. Dalam keheningan aku memintamu kepada Allah.
Berharap kamu adalah ketetapan yang telah ditetapkan oleh-Nya.
Kamu adalah salah satu alasan untukku menjadi lebih baik setiap harinya.
Karena kamu adalah orang yang baik, jauh lebih baik daripada aku.
Aku ingin belajar memantaskan diri agar Allah percaya bahwa aku cukup pantas untukmu.
Tapi, kamu tahu?
Rasa ini membuatku takut. Aku takut jika ini adalah sebuah kekeliruan.
Aku takut rasa ini terus tumbuh tanpa aku tahu bahwa kamu bukanlah ketetapan yang telah ditetapkan-Nya untukku.
Sungguh aku tak mengerti, apa yang sudah Allah rencanakan di balik semua ini?
Setiap hari aku berusaha mengendalikan perasaan agar rasa ini tidak melebihi rasa cintaku pada-Nya.
Aku ingin mendekatimu dengan cara yang baik. Lewat do’a yang selalu aku panjatkan seusai shalat.
Aku ingin mendekati-Nya terlebih dahulu, karena dengan begitu aku merasa lebih dekat denganmu.
Semoga suatu saat Allah memberikan petunjuk atas segalanya.
Entah akan menjadi sebuah kebahagiaan ataukah kerelaan hati untuk mengikhlaskan.
Jika memang kamulah orang itu, semoga kita lekas diberi jalan.
Sementara itu, marilah sama-sama memantaskan diri. 

Sabtu, 22 Oktober 2016

Rumah

Rumah. Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar kata itu? Mungkin kau akan membayangkan satu tempat yang nyaman, lengkap dengan orang-orang yang juga membuatmu nyaman. Jika iya, maka beruntunglah. Karena tidak semua orang dapat merasakan hal yang sama.. Termasuk aku.

Aku dibesarkan dalam keluarga yang individualis. Aku lupa bagaimana rasanya berkumpul bersama keluarga seperti yang biasa keluarga lain lakukan. Meskipun ada dalam satu atap, namun seperti ada jarak di antara kita semua. Hal itu membuatku menjadi pribadi yang benar-benar senang menyendiri. Aku tidak suka ada di tengah keramaian, sendiri selalu terasa lebih baik.

Sejak kecil, aku tidak pernah diajari mengenai keterbukaan. Sehingga sampai saat ini jika ada sesuatu yang terjadi, bercerita bukanlah satu solusi. Hal itu membuatku menjadi pribadi yang tertutup. Aku tidak suka membicarakan masalahku kepada orang lain. Aku tahu, orang lain hanya dapat mendengarkan tanpa benar-benar mengerti apa yang kita rasakan.

Aku selalu diajarkan mengenai kemandirian. Karena itu, saat ini aku dapat berdiri di atas kakiku sendiri. Aku tidak ketergantungan pada orang lain. Aku terbiasa menyelesaikan masalahku sendiri. Aku terbiasa menjadi tempat mengadu bagi diriku sendiri. Sering kali aku merasa tidak memiliki siapapun, padahal nyatanya mereka ada.

Jika diberi kesempatan, aku ingin merasakan bagaimana hangatnya dekapan seorang ibu. Aku ingin merasakan bagaimana senangnya melihat ibu tersenyum ketika aku menginjakkan kaki ke dalam rumah. Aku ingin merasakan adanya sosok ibu ketika semua beban tak dapat aku tanggung sendiri. Aku merasa dunia ini terlalu keras jika harus aku hadapi seorang diri.

Jika diberi kesempatan, aku ingin merasakan bagaimana rasanya berbicara banyak dengan ayah. Aku ingin membicakan tentang mimpiku, dan tentang segalanya. Aku punya banyak mimpi, Yah. Aku ingin berbagi semua itu denganmu karena aku tau kaulah yang dapat mengerti semua mimpiku.

Jika diberi kesempatan, aku ingin merasakan bagaimana kasih sayang seorang kakak. Aku ingin kita berbagi canda tawa lagi seperti dulu. Aku ingin merasakan ada seseorang yang dapat menjadi tempatku berbagi cerita. Saat ini memulai pembicaraan pun rasanya aku tidak mampu, rasanya kita sudah terlalu jauh.

Aku rindu. Aku rindu kebersamaan kita dulu. Tapi aku juga tahu bahwa roda kehidupan akan terus berputar, segala sesuatu tidak mungkin dapat terulang kembali. Segala hal yang sudah retak tidak mungkin dapat kembali ke bentuk semula. Tapi.. Meskipun segalanya tak sesuai yang diharapkan, aku sangat bersyukur. Aku bersyukur masih memiliki kalian secara utuh.

Jika boleh jujur, aku sayang sekali pada kalian. Sayang sekali. Tapi aku tidak tahu cara mengungkapkannya, karena aku tidak pernah diajarkan bagaimana caranya mengungkapkan kasih sayang. Aku hanya bisa menuangkan semuanya dalam tulisan ini –tulisan yang mungkin tidak akan pernah kalian baca.

Minggu, 07 Agustus 2016

Tentang Dua Hari yang Lalu

Dua hari yang lalu.. Aku masih tidak bisa melupakan hari itu. Saat itu kita bertemu di satu momen yang entah bisa dinamakan kebetulan atau tidak. Saat seorang teman menghubungiku dan berkata bahwa kamu ada di sana, seketika senyuman mengembang di bibirku. Jantungku berdegup semakin kencang ketika melangkah ke arah dimana kamu sedang berada.

Sesampainya di sana, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku yang semakin tidak terkendali. Senyuman lebar selalu menghiasi wajahku meskipun aku sudah berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin. Di tengah kerumunan orang, aku lihat ada kamu di sana. Sesekali aku melihat ke arahmu, entah kamu menyadari atau tidak.

Lalu tiba-tiba saja.. Ada suatu hal yang membuat jarak kita semakin mendekat. Sungguh.. Aku tidak bisa menyembunyikan raut wajahku yang sepertinya semakin terlihat ‘tidak biasa’. Dan lagi, aku harus bersikap sebiasa mungkin agar kamu tidak curiga. Tapi tiba-tiba saja kamu mengatakan sesuatu kepadaku yang membuat jantungku berdegup semakin kencang. Mungkin perkataanmu biasa saja, tapi karena kamu yang mengatakan rasanya jadi berbeda.

Setelah itu, aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia di dalam hatiku yang sepertinya semakin menjadi-jadi. Aku jadi ingat, dua hari sebelumnya kita juga bertemu secara tidak sengaja di satu tempat. Aku tidak bisa berkata apa-apa ketika tiba-tiba saja kamu melewat di hadapanku dan mata kita bertemu. Untuk menyapamu atau hanya tersenyum kepadamu saja rasanya lebih sulit dari apapun.

Hmm.. Entah harus dinamakan apa perasaan ini, tapi setauku ketika aku mendengar apapun tentang kamu, ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatiku. Aku tidak ingin berharap apapun, aku takut suatu saat harapanku harus dipatahkan karena kenyataan berkata lain. Tapi sayangnya, sampai saat ini aku belum tau bagaimana caranya membatasi harapan. Aku juga belum tau bagaimana caranya untuk tidak berharap. 

Selasa, 28 Juni 2016

Mengingat Kematian

Selamat malam. Malam ini aku ingin menulis tentang sesuatu yang sedikit ‘seram’, menurutku. Aku ingin menulis tentang sesuatu yang pasti terjadi pada kita semua : kematian.

Beberapa hari yang lalu aku membaca sebuah tulisan yang berjudul ‘5 Tanda 100 Hari Menjelang Kematian’. Tulisan itu sungguh membuatku gemetar dan tak henti-hentinya menangis. Dalam tulisan itu disebutkan tanda-tanda jika kita sudah 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian. Tanda-tanda yang disebutkan dalam tulisan tersebut merupakan tanda-tanda yang mungkin dianggap sepele oleh kebanyakan orang, sampai mungkin kita tidak akan menyadari tanda-tanda tersebut.

Aku takut. Aku takut kalau tiba-tiba saja tanda-tanda tersebut muncul sehingga aku sadar bahwa waktuku tinggal sebentar lagi. Aku juga takut tidak menyadari tanda-tanda tersebut sehingga akhirnya lalai dalam mempersiapkan semuanya. Aku takut jika nanti pergi tanpa mempersiapkan apapun. Aku belum siap. Sungguh, aku belum siap.

Aku tidak tahu kapan waktuku akan datang. Aku hanya berharap diberi umur panjang, sampai semua tugasku di dunia ini selesai, sampai aku rasa mempunyai cukup bekal untuk melanjutkan kehidupanku di alam yang selanjutnya. Saat ini masih banyak yang ingin aku lakukan. Aku juga tidak mau meninggalkan siapapun yang saat ini ada di dalam hidupku. Aku sangat sayang kepada mereka, aku harap kita bukan hanya bersama di dunia saja, tapi di akhirat juga.

Dari beberapa tulisan yang pernah aku baca, aku cukup mengerti bahwa alam kubur sangat mengerikan. Hanya amalan kita selama di dunia yang akan menemani kita di sana. Tidak ada keluarga, teman, atau siapapun yang sebelumnya kita kenal di dunia. Kita akan menjalani semuanya sendiri. Jika amalan kita baik, maka berbahagialah karena di sana kita tidak akan merasa sendiri. Namun jika amalan kita buruk, maka celakalah.

Sampai tulisan ini dibuat, aku masih saja tak kuat menahan tangis. Aku selalu takut jika ingat pada kematian. Aku tahu, kematian bukanlah suatu hal yang harus ditakuti karena itu adalah sesuatu yang pasti. Kematian pasti akan datang kepada kita, mau tidak mau, siap tidak siap. Banyak-banyaklah mempersiapkan diri karena kita tidak tahu kapan malaikat maut akan menjemput. Semoga kita semua kembali kepada-Nya dalam keadaan khusnul khotimah. 

Sabtu, 04 Juni 2016

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau serimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?
Atau aku harus bagaimana?

-Gus Mus, 1987-

Jumat, 29 April 2016

Kagum

Aku mulai mengenalmu sekitar 3 tahun yang lalu. Saat itu, kamu sedang menjadi ketua pelaksana dalam suatu acara dan aku menjadi salah satu panitianya. Pembentukan kepanitiaan yang mendadak membuatku tak mengenal panitia lainnya satu persatu. Dulu aku adalah seorang wartawan kampus, acara seperti itu tentu saja membuatku harus melakukan peliputan. Di akhir acara, aku mewawancarai kamu sebagai ketua pelaksana. Meskipun kita ada dalam satu lingkungan yang sama, tapi jujur saja.. Saat itu aku baru pertama kali melihat kamu. Kamu menjawab setiap pertanyaan dariku dengan cukup sopan dan tegas. Dari cara bicaramu, aku melihat bahwa kamu adalah orang yang memiliki kepribadian yang baik.

Setelah acara itu, aku jarang sekali bertemu denganmu karena mungkin ada ‘perbedaan’ di antara kita. Aku melihat kamu aktif dalam berbagai kegiatan kampus. Kita juga sepertinya pernah ada dalam satu kepanitiaan acara yang sama. Namun waktu itu aku tidak menyadari kehadiranmu. Mungkin jumlah panitia yang cukup banyak membuatku tak bisa mengetahui secara detail siapa saja anggota dari divisi lain.

Beberapa tahun kemudian, kamu mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar daripada acara yang pertama kali mempertemukan kita. Tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada itu. Ketika mendengar kabar itu, aku senang bukan main. Entah kenapa.. Tapi aku rasa kamu cocok untuk menjadi seorang pemimpin. Setelah beberapa tahun tahu tentang kamu, meskipun hanya tahu dari apa yang aku lihat, menurutku kamu adalah sosok yang bertanggung jawab. Kamu adalah sosok pemimpin yang luar biasa.

Ketika menjabat sebagai seorang pemimpin, aku tak melihat kamu lantas berubah menjadi sosok yang sombong ataupun angkuh. Kamu dapat merangkul semua lapisan mahasiswa yang kamu pimpin. Kamu adalah pemimpin yang sederhana. Meskipun ada dalam jabatan tertinggi sekalipun, kamu tetap menunjukkan kerendahan hati. Entah ini hanya penilaianku saja sebagai orang yang tidak terlalu mengenalmu, tapi setahuku aku tidak pernah mendengar kabar negatif tentang kamu.

Di luar sana, aku melihat banyak lawan jenis yang mengagumimu. Mereka seringkali menyampaikan salam lewat salah satu official account yang ada di kampus kita. Pernah juga aku lihat mereka terang-terangan menunjukkannya dalam salah satu akun sosial media yang kamu punya. Namun kamu hanya menanggapi sewajarnya. Kamu tidak lantas besar kepala karena banyak orang yang kagum terhadap kamu. Dari beberapa hal yang pernah kamu tulis, aku melihat bahwa kamu adalah orang yang mendahulukan-Nya dibandingkan apapun. Sungguh, itu adalah salah satu nilai lebih yang kamu punya. Dan juga mungkin menjadi salah satu alasan orang lain untuk mengagumi kamu.

Beberapa waktu yang lalu, kita hadir dalam satu acara yang sama. Awalnya aku tidak tahu bahwa ada kamu juga di sana, tapi ternyata kamu duduk persis di belakangku. Malam itu aku mendapatkan penghargaan dalam satu acara yang ada di kampus. Setelah turun dari stage, kamu tiba-tiba mengajakku berbincang. Aku yang cukup kaget hanya dapat menjawab dengan sebiasa mungkin. Aku tidak mau kamu tahu bahwa sebenarnya jantungku sedang berdegup lebih kencang dari biasanya. Setelah pergi dari acara itu, rasanya aku tidak bisa melupakan kejadian tersebut. Setelah beberapa tahun saling mengenal, baru beberapa kali saja kita melakukan perbincangan secara langsung.

Dari seorang teman, aku tahu bahwa kamu adalah seorang pekerja keras. Kamu adalah seorang dengan mimpi yang besar, dan kamu akan berusaha terus sampai mimpi itu tercapai. Sama seperti aku, jika mempunyai suatu mimpi aku pasti akan sebisa mungkin menggapai mimpi tersebut. Aku senang jika menemukan orang yang seperti itu juga. Di sisi lain, kamu juga adalah seorang yang pintar. Bukan hanya pintar dalam hal akademik, tapi juga pintar membawa diri. Pintar dalam artian yang sesungguhnya. 

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Apakah ini hanya rasa kagum? Atau apa? Setiap bagian yang ada dalam dirimu selalu berhasil membuatku berdecak kagum. Kamu adalah sosok yang selama ini aku cari. Jika ingin tahu aku menyukai lelaki yang seperti apa, mungkin kamulah jawabannya. Aku ingin suatu saat memiliki pendamping yang seperti kamu, yang bisa membawaku ke arah yang lebih baik. Tapi katanya, lelaki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan juga sebaliknya. Mungkin saat ini sudah waktunya memperbaiki diri untuk mendapatkan yang ‘setara’. Tidak harus kamu, tapi aku harap sosok itu bisa seperti kamu.

Sabtu, 05 Maret 2016

Tentang Kamu dan Inspirasiku

Hallo, rasanya sudah lama sekali blog ini aku tinggalkan. Apa kabar? Untuk siapapun yang membaca tulisan ini, semoga semuanya dalam keadaan baik.

Akhir-akhir ini, aku merasa ada yang kurang, seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Semua berawal dari pertanyaan salah seorang teman di komunitas beberapa waktu yang lalu. Percakapan kita kurang lebih seperti ini :

A : “Va, kamu masih suka nulis?”

B : “Aku udah gak nulis lagi.”

Setelah berkata seperti itu, ada hening beberapa saat di antara kami. Serasa ada yang aneh dengan perkataanku itu.

B : “Oh maksudnya suka kok, tapi udah lama gak nulis.”

Aku buru-buru meralat perkataanku. Rasanya tidak bisa dipercaya ketika ditanya bisa langsung menjawab seperti itu. Tidak bisa dipungkiri, aku memang sudah lama vakum dari dunia tulis menulis. Tulisan-tulisan terakhir pun hanya berakhir di folder draft, semua yang ada di pikiran tidak lagi dapat aku tuangkan dalam bentuk tulisan.

Entah kenapa.. Satu tahun yang lalu, di saat kamu benar-benar pergi, rasanya semua inspirasiku juga ikut pergi. Selama dua tahun berturut-turut kamu yang aku jadikan inspirasi dalam menulis. Di saat kamu pergi, semuanya ikut pergi. Tulisanku seperti tidak lagi hidup, hambar sekali. Beberapa tulisan terakhirku hanya berisi tentang aku yang sedang menunggu kamu yang tidak juga datang. Beberapa kali aku tuliskan bahwa aku rindu, tapi entah kamu baca atau tidak. Rasanya tidak ada topik lain yang bisa aku tuliskan. Ternyata menjadikan orang baru sebagai inspirasi bukanlah hal yang mudah.

Lama-lama aku sadar bahwa duniaku bukan hanya tentang kamu, kamu dan kamu. Masih banyak hal yang bisa aku tuliskan. Kamu sudah cukup menjadi tokoh utama dalam beberapa tulisanku sebelumnya, tapi sekarang tidak lagi. Mungkin suatu saat akan kembali aku tuliskan jika aku sedang rindu atau apalah itu. Yang pasti, tidak saat ini. Aku juga tahu, saat ini tulisanmu bukan lagi tentang aku. Tapi sudahlah, semuanya sudah lewat. Jika kamu membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa kamu sempat hidup dalam tulisan-tulisanku. Ketahuilah juga bahwa aku sempat menunggu kamu dalam waktu yang lama, begitu lama. Tapi sekarang sudahlah.. Aku harap kita masih bisa berteman baik.