Pages

Minggu, 09 Maret 2014

Oh My Sleeping Prince, I Miss You

Kamu, apa kabar? Pangeran tidur yang selalu aku simpan dalam hati. Saat ini sepertinya waktu mencoba untuk memisahkan kita, sehingga satu pertemuan pun menjadi satu hal yang selalu aku tunggu. Mengapa waktu bisa begitu jahat? Entahlah. Banyak hal berbeda yang kini aku rasakan. Mungkin karena perjalanan kita yang sudah lumayan lama.. Setengah tahun menjalani semuanya, dan lebih dari satu tahun kita dekat. Apa kamu bosan? Aku rasa begitu. Aku rindu saat-saat itu. Saat perlakuan manis masih hinggap di tengah kisah kita. Aku ingat.. Dulu begitu lama kita dekat, sebelum akhirnya memutuskan untuk bersama. Ternyata pendekatan yang begitu lama pun tidak baik juga. Kata orang, ”Masa-masa indahnya sudah lewat.” Ya, sepertinya memang begitu.

Kamu, aku rindu berbagai hal manis yang dulu pernah kita lakukan. Dulu, pertemuan seakan menjadi suatu hal yang selalu kita nantikan. Kamu (ataupun aku) selalu berusaha untuk menciptakan satu pertemuan. Entah itu hanya untuk sekedar makan bareng atau hanya jalan-jalan. Aku ingat, dulu pertama kali kita meluangkan waktu bersama untuk makan di sebuah restoran cepat saji, ya meskipun itu bukan tujuan awal kita. Ketika itu aku masih berada di kampung halamanku. Aku sengaja pulang ke Bandung lebih awal karena sudah berjanji akan pergi bersamamu. Dan betapa senangnya, ketika sampai kamu sudah menanti di ujung gang rumahku. Ya.. Aku rindu saat itu.

Aku juga ingat, dulu pernah ketika aku akan pulang diantar olehmu, kamu membujukku untuk tinggal di Bandung satu hari lagi. Saat itu aku sedang dibutakan oleh berbagai masalah, ingin rasanya menangis. Saat itu, kamu selalu bertanya apa yang terjadi kepadaku. Namun aku tak ingin membagi beban yang aku rasakan, aku lebih memilih untuk diam. Lalu kamu mencoba untuk terus menghibur. Kamu membawaku pergi jauh, menikmati dinginnya malam bersamamu. Kamu mengarahkan motor ke arah tempat yang begitu jauh, ke tempat dimana universitas impianku berada. Waktu yang begitu larut membuatku ragu untuk kamu bawa ke sana. Namun pada akhirnya aku luluh. Dan kamu berhasil, kamu membuat aku lupa akan semua masalahku. Tawa tak henti kamu bagi, membuatku merasa nyaman ada di dekatmu.


Cerita lainnya.. Dulu aku sempat ingin mengikuti tes ke salah satu sekolah kedinasan. Aku sering bercerita kepadamu tentang hal itu. Secara tidak langsung aku melihat kamu tidak ingin aku pergi. Kamu selalu menahanku untuk pergi. Aku begitu terharu ketika kamu melakukan itu semua. Memangnya aku berharga bagimu? Namun setelah aku yakinkan, kamu bisa menerima. Katamu, mungkin saja suatu saat kita dipertemukan di tempat yang lain. Kamu ingat dengan perkataanmu itu? Sepertinya kamu sudah lupa, aku saja yang terlalu rajin mengingat. Ketika hari-H, kamu mengantarku ke lokasi ujian. Kamu aku ajak berputar-putar mencari ruangan, meski aku tahu kamu sedang kelelahan saat itu, namun kamu tetap mau..


Juga tentang sore itu, kamu ingat? Setelah lelah menjalani kuliah, kamu menghubungiku. Katanya, “Kita jalan-jalan.” Aku bertanya-tanya, hendak dibawa kemana? Dan ternyata.. Kamu memintaku untuk menemanimu mencari beberapa alamat panti asuhan yang ada di Bandung. Meskipun cuaca begitu dingin malam itu, namun aku mencoba untuk menikmatinya. Aku senang bertemu dengan mereka, anak-anak yang begitu lugunya. Seakan tak ada beban yang mereka milikki, padahal mereka harus menjalani hidup tanpa sosok orang tua. Begitu hebatnya mereka. Dan kamu, kamu membuat satu pengalaman yang sangat berharga bagiku. Kamu mempertemukan aku dengan anak-anak manis itu. Sungguh bahagia rasanya.

Kamu ingat tentang malam itu? Ketika kita menghabiskan waktu bersama di salah satu tempat perbelanjaan yang sering kita kunjungi. Lalu kita berjalan ke arah game master. Kita bermain bersama. Mencoba beberapa permainan, seperti misalnya basket. Ah, basket.. Kamu adalah pebasket yang baik, aku senang melihatmu bermain. Kamu sungguh sesuai dengan apa yang aku mau, entah mengapa, dulu aku sangat menyukai anak basket, dan sekarang aku memilikinya. Betapa senangnya. Di pusat permainan itu, kita bermain satu game yang apabila menang akan mendapatkan sebuah boneka. Aku lihat kamu begitu antusias dengan game itu, kamu ingin memenangkannya. “Nanti bonekanya buat kamu,” katanya saat itu. Aku geli mendengarnya, juga ketika melihatnya bulak-balik membeli koin untuk memainkan kembali game itu. Meskipun akhirnya tidak menang, namun aku mendapatkan boneka kecil berwarna biru dari game lainnya. Cukup membuatku senang, apalagi itu didapatkan ketika aku sedang bersamamu. Mungkin akan menjadi kenangan suatu saat nanti.

Selain jago basket, kamu juga adalah pemusik yang baik. Sekali lagi, dari dulu aku juga suka dengan orang yang bisa bermain musik, dan kini aku memilikinya. Entah mengapa, aku dapat terpaku begitu saja jika melihat seseorang yang sedang bermain musik. Mengapa? Karena aku cinta musik, layaknya aku mencintaimu. Aku rindu dengan nada-nada yang kita nyanyikan. Kamu ingat lagu Maliq & d’Essentials yang berjudul ‘Pilihanku’? Dulu kita sering menyanyikan lagu itu, sekali pun sedang dalam perjalanan. Meskipun kamu selalu meledek suaraku, namun aku selalu dengan sengaja menyanyi keras-keras di depan telingamu. Dan kita pun tertawa bersama.

Sungguh, aku rindu semua hal manis (dan hal gila) yang kita lakukan dulu. Sering kali kita membuat satu percakapan yang orang lain tidak mengerti. Namun kita dapat tertawa terbahak-bahak karena lelucon itu. Kata orang, imajinasi kita terlalu tinggi. Ya, mungkin saja. Namun itulah yang membuatku mencintaimu. Kamu membuatku nyaman dengan segala percakapan yang penuh dengan tawa. Kali ini pun, aku cukup nyaman dengan hubungan yang tidak kamu bawa terlalu serius. Meskipun aku selalu bertingkah aneh, menuduhmu ini itu, namun sungguh.. Di balik semua itu aku sangat mencintaimu. Dan aku selalu berharap saat-saat itu akan kembali. Sungguh, aku rindu.

Kamis, 30 Januari 2014

Untitled

Selamat malam bulan dan bintang. Boleh aku bercerita? Sepertinya malam ini aku sudah di ambang batas kesabaran. Haruskah aku terus berlari dalam koridor yang sama sekali bukan diperuntukkan untukku? Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasanya sakit sekali melihat apa yang dicantumkan di situs online itu. Jika sudah seperti ini, lalu harus bagaimana? Semua sudah terlanjur terjadi. Ingin mengulang semuanya? Sia-sia, sepertinya begitu. Waktu yang sudah berlalu takkan mungkin kembali. 

Aku tahu, aku telah mengambil keputusan yang salah. Aku selalu merasa paling kuat, namun di balik itu aku sangatlah lemah. Tanpa disadari aku harus meninggalkan kewajiban yang harus aku lakukan di sini. Aku tak pernah mendengar apa yang mereka katakan, merasa paling benar. Kini penyesalan ada di depan mata. Ingin menarik semua kata-kata? Rasanya takkan berarti apa-apa. 

Enam bulan, bukanlah waktu yang terbilang lama. Namun masa-masa itu aku rasa begitu berat. Mungkin karena aku yang kurang mengikuti, sehingga satu hal yang menurut mereka mudah dapat menjadi hal yang sangat sulit bagiku. Aku akui, ada dalam dua lingkaran yang berbeda sangat menjadi beban untukku. Ketika aku mencintai satu dunia, lalu dipaksa berkecimpung dalam satu dunia yang sangat aku benci. Begitu berat bukan? Coba rasakan sendiri. 

Kini hanya penyesalan yang ada dalam hati. Harus diganti dengan apa? Aku tak tahu. Mereka pasti sangat kecewa, bukankah selama ini mereka sangat mengharapkanku? Namun begitu saja harapan itu aku lenyapkan. Maaf, maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Aku ingin melukis senyum bangga di wajah mereka lagi, seperti dulu..

Kamis, 16 Januari 2014

Sore Itu

Setelah sekian lama, akhirnya pertemuan itu datang kembali. Mungkin aku sudah merasa cukup lelah, hingga akhirnya mencoba untuk membicarakan semuanya. Datanglah sore itu.. Ketika aku berusaha melawan jarak hanya demi sebuah pertemuan. Sesampainya di sana, aku coba menghubungimu, namun tak ada respon apapun. Rupanya, kamu terlelap karena menungguku yang datang terlalu lama. Lalu setelah beberapa saat, kamu menyuruhku untuk menunggu di tempat itu. Ah, seperti biasa. Aku pun berjalan menuju tempat tersebut dengan sedikit tak sabar. Namun ternyata tak ku dapati sosok itu. Aku pun mencoba untuk menunggu.. Lalu datanglah dia. Aku tak berani untuk menatapnya. Entah mengapa, aku takut pandangannya melukaiku. Aku hanya tertunduk, tanpa ku tau dia sedang berusaha mencoba mencairkan suasana. Aku pun tersenyum simpul. Ingin rasanya ku berkata, “Aku rindu kamu.” Namun semua niat itu ku pendam begitu saja, karena aku tau respon yang akan kamu berikan seperti apa. Datar. Setelah itu, dengan motornya kita berjalan menuju suatu tempat. Seperti dua insan yang saling merindu (entah mungkin hanya aku saja), kita pun berbincang mengenai segala hal, tak jarang kita tertawa bersama. Katamu, banyak perubahan yang terjadi selama kamu terjebak dalam ruangan itu. Aku hanya tertawa mendengar ceritamu. “Memang selama apa kamu berada di sana?” tanyaku dalam hati. Kamu, selalu saja membuatku tersenyum dengan semua candaanmu. Aku rindu saat-saat itu, sungguh. Kamu ingat? Terakhir kali kita bertemu kamu hanya duduk terdiam. Saat itu, kondisimu sedang tidak stabil, aku pun tak banyak berbicara karena aku tau itu hanya akan berakhir sia-sia. Rasanya, itu bukan aku dan kamu yang seperti biasanya. Kembali ke sore itu, aku bertemu denganmu hanya dalam waktu yang singkat. Dua setengah jam, ya, menurutku itu waktu yang cukup singkat. Namun aku mencoba memanfaatkan waktu yang tak lama itu. Ketika waktu menunjukan pukul 8 malam, kita bergegas untuk pulang. Katanya, kamu akan pergi mengerjakan sesuatu. “So sibuk,” kataku saat itu. Dengan waktu yang cukup singkat, namun aku merasa cukup bahagia dengan pertemuan di hari itu. Karena kamu tau itu hari apa? Kamu pasti tau. Bukankah aku yang mengingatkanmu ketika waktu terus berusaha untuk merenggutmu? Tak apa, aku tak akan mempermasalahkannya. Terima kasih untuk hari yang indah itu. 

Jumat, 22 November 2013

Apa Peduli?

Oke, sudah hampir lima jam aku menunggumu di sini. Kau tidak peduli atau bagaimana? Memberiku sedikit kabar saja begitu sulitnya. Sudah ku bilang berkali-kali, aku menunggumu. Namun seolah aku ini tidak penting, semua telepon dan pesan singkat yang ku kirimkan tak kau hiraukan sama sekali. Padahal.. Aku sudah bersusah payah datang ke sini, mengorbankan banyak hal. Namun apa artinya semua penantian ini jika hanya berakhir sia-sia?

Aku tak pernah mengerti mengapa kau seperti ini. Sungguh, mata ini sudah lelah untuk menangisi semua yang terjadi. Aku lelah. Adakah sedikit kau pedulikan? Jika ingin jujur, rasanya pikiran ini pun sudah begitu lelah. Semalaman memikirkan satu hal yang entah penting atau tidak. Mengorbankan jam tidur. Mata sembab, tubuh lelah. Rasanya sudah tidak peduli dengan semua ini.

Aku hanya menginginkan satu pertemuan, begitu sulitkah? Aku rasa, kau begitu mudahnya membuat janji dengan seseorang. Namun mengapa denganku harus sesulit ini? Kau anggap aku ini apa? Aku tak mau terus tersiksa dengan rasa yang ada, tolong mengertilah. Aku seakan sedang mengejar sesuatu, dan yang dikejar hanya dapat terus berjalan ke depan tanpa tau di belakangnya ada seseorang yang terus berusaha menggapainya.

Kau tau bagaimana rasanya jadi aku? Selalu mencoba bersabar dengan tingkahmu yang kadang tidak masuk akal. Apa di luar sana kau bisa menemukan seseorang yang sesabar aku? Entahlah. Kita sudah berjalan sejauh ini, tak mungkin aku menyerah begitu saja. Aku ingin kita terus berjalan beriringan, tanpa ada sedikit pun kerikil yang membuat semuanya sirna. Kau mengerti kan?

Kau, cobalah untuk mengerti. Aku tidak ingin berjalan sendirian. Hargailah semua usaha yang sudah aku lakukan agar kita tetap berjalan dalam koridor yang sama. Berubahlah. Bukannya aku ingin mengubah dirimu, namun ini demi kebaikanmu juga kan? Jangan sia-siakan orang yang selalu menjaga hubungannya denganmu, jangan sampai kau menyesal ketika kehadiranmu sudah tak lagi diharapkannya, dan ketika ia sudah pergi jauh dari pandanganmu.

Kamis, 19 September 2013

Dari Balik Ranting Pohon Malam Itu



Di malam yang sepi, gadis itu berjalan menyusuri gelapnya malam. Hatinya berbunga-bunga. Lalu ia bertanya pada ranting pohon yang membisu, “Mengapa?” Kemudian ada bisik yang menyeruak dalam hatinya, katanya, ia sedang jatuh hati. Jatuh hati pada siapa? Hanya ia yang tahu jawabannya. Ia terus berpikir, mengapa dunia terlalu jahat untuk memisahkan mereka? Namun ia yakin suatu saat akan ada saatnya mereka dapat bersama. Ia selalu ingat apa yang ‘seseorang’ itu ucapkan. Mulai saat itu, ia berjanji tak akan pernah lelah untuk menunggu. Rasa itu terlalu indah untuk dapat ia buang begitu saja.


Hari semakin malam. Tiba-tiba ia mendapati bayangan orang itu di balik gelapnya malam. Lalu mereka berjalan beriringan. Kantuk ia coba lawan, lelah ia coba singkirkan. Mereka berbicara mengenai berbagai hal, terkadang mereka tertawa bersama. Bulan purnama menemani mereka malam itu. Sungguh indah, meskipun mereka harus melihatnya dari balik ranting pohon yang menghiasi dinginnya malam. Kemudian ia berkata dalam hati, ia berkata bahwa itu adalah malam yang tak terlupakan. Begitu indah. Tepatnya, awal yang indah untuk mereka.